Senin, 15 Agustus 2011

Cerita Pengemis Pondok, Menjadi Pengusaha

Cerita Ilustrasi Memancing Emosi.
Bukannya bosan dengan cerita Nazaruddin atau cerita hukum politik sebab akan membikin anda gemas dan marah tak tahu harus marah ke mana. Seperti juga halnya ketika anda melihat ada sesuatu kesalahan dan ingin memperbaikinya, namun anda tidak mempunyai kesanggupan untuk merubahnya.

Kemudian anda mencak-mencak marah, membanting kaki menendang sana sini, tapi kaki anda sendiri yang sakit. Menandukkan kepala anda ke dinding, akan tetapi kepala anda sendiri yang sakit.

Ya..sudahlah...biarkan sajalah untuk sementara,..toh kata para ustadz di masjid ketika ceramah menjelaskan bahwa jika tidak sanggup merubahnya dengan tangan mu (kekuatanmu), maka rubahlan dengan lisan mu, namun jika dengan lisan mu juga kamu tidak sanggup, ya apa boleh buat, menjadi selemah-lemahnya iman, cukup dalam hati saja..

Cerita Intermezoo Pengemis Pondok Menjadi Pengusaha
Dari cerita hukum kasus Nazaruddin dan politik, mengarahkan anda ke cerita ilustrasi yang bukan kisah sebenarnya walaupun mungkin saja pernah terjadi di tempat-tempat lain. Tapi setidaknya sebagai cerita ilustrasi telah difilm-kan dalam berbagai versi cerita di sinetron tv.

Berikut ini, jangan ke mana-mana dulu, ternyata jam menunjukkan waktu mendekati sore sebentar lagi akan beduk magrib puasa ramadhan.

Siapa yang bisa menyangka, jika saja anda bertemu dengan DIA, (Sebut saja namanya SANGKUT-bukan nama sebenarnya) pada beberapa tahun yang lalu, hanyalah seorang mahasiswa miskin yang berusaha kuliah di Jawa.

Berasal dari keluarga tidak kaya, namun punya tekat ingin pandai dan berhasil, maka Sangkut pergi ke Jawa dan diterima menjadi mahasiswa. Namun tentu saja, ia kesulitan menutupi biaya kuliahnya dan kebutuhan makan hari-harinya, karena tidak ada kiriman uang dari orang tuanya yang tidak kaya alias miskin.

Sangkut tidak menyerah, ia menemui Kiai pondok yang sekaligus pimpinan kampus di mana Sangkut kuliah saat itu dan meminta diberikan kerja di sela-sela waktu kosong kuliah. Maka dikabulkan oleh sang kiai dengan memberikan tugas kepada Sangkut untuk setiap pagi membersihkan sampah di sekeliling pondok dan kampus. Sebagai upahnya, Sangkup mendapat makan gratis selama kuliah di pondok.

Masalah makan sudah beres, lantas uruan uang kuliah dari mana? Sangkut berpikir dan Allah memberikan jalan keluarnya. Biarpun miskin, ternyata sangkut bukanlah mahasiswa bodoh, ia mempunyai keahlian bahasa Inggris. Iapun membuka kursus les private bahasa inggris dan ternyata banyak mahasiswa/i yang mau belajar dan tentu saja mereka memberikan uang les yang cukup untuk bayar uang kuliah Sangkut.

Pengalaman memberikan les dan kemampuan bahasa inggrisnya ternyata didengar oleh para mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya saat itu, dan meminta waktu Sangkut untuk mengajar mereka. Sangkut pun bersedia dan tentunya tidak meninggalkan tugasnya sebagai pembersih sampai di lingkungan Pondok dan Kampus tempatnya belajar.

Hasilnya, uang dari mengajar mahasiswa lain tersebut ternyata sangat besar untuk saat itu dan bahkan Sangkut selama kuliah di Pondok, masih sanggup mengirim uang untuk biaya sekolah adik-adiknya di kampung.

Waktu terus berjalan, takdir memang tidak ada yang tahu, di semester 6 sangkut ternyata berhubungan dengan teman-temannya dari Malaysia dan babak baru kehidupannya pun mengalami perubahan,

Sangkut berangkat ke Malaysia hingga tanpa kabar selama bertahun-tahun lamanya. Entah menjadi apa Who Knows? Tidak ada teman-teman sekampusnya yang tahu. Hingga suatu hari, jika anda bertemu dengan Sangkut di Jakarta di tahun 2011,, ternyata ia telah menjadi seorang pengusaha minnyak. Ia menjadi salah satu tokoh penting di salah satu perusahaan swasta nasional yang memiliki jaringan bisnis dengan peruahan besar di Korea.

Ya itulah takdir pengemis, yang mengemis dengan kiai minta diberikan pekerjaan sebagai tukang bersih sampah. Dan sekarang telah menjadi pengusaha.

Itulah takdir, siapa yang tahu, seperti cerita sebelumnya, bahkan polisi berpangkat biasa, bisa dikawal seperti raja: Fenomena Briptu Norman, walaupun kemudian nasib kembali berubah.
Buat Tautan ke Postingan ini: Cerita Pengemis Pondok, Menjadi Pengusaha

Animasi Button Majlisasmanabawi: animasi majlisasmanabawi copy paste di sidebar situs anda

Share Ke Sosmed Anda:

G+

Komentar Pesbuker: Cerita Pengemis Pondok, Menjadi Pengusaha