Minggu, 14 Agustus 2011

Menyikapi Kasus Korupsi Nazaruddin Tiba di Indonesia

Tindakan Korupsi Nazaruddin
Sedikit tertegun sejenak, ketika menonton beberapa siaran tv lokal Indonesia beberapa jam yang lalu, seperti siaran breaking news TVone, isi beritanya tentang Muhammad Nazaruddin yang sempat menjadi buronan interpol dan pada 7 Agustus lalu tertangkap di Bogota Kolombia.

Apa sih yang aneh, tidak ada yang aneh kecuali ramainya pemberitaan tentang Nazaruddin yang oleh pembaca berita di TVOne disebut-sebut sebagai Koruptor Termahal di Indonesia. Karena alasan mahalnya biaya sewa pesawat yang digunakan untuk menjemput Nazaruddin, yang dikabarkan kalau biayanya mencapai Rp. 4 Milyar. Di samping, jauhnya perjalanan Nazaruddin selama menjadi buronan, yang diberitakan melewati 3 benua dan +/- 80 negara yang dilalui.

Menyikapi kasus Nazaruddin, tidak bermaksud menjadi politikus dan ahli hukum KUHP, karena bukan bidang kami. Namun ada hal yang menarik dalam pemberitaan nazaruddin ketika dihubungkan pada persoalan agama, yaitu tindakan Korupsi.

Dalam konsep agama Islam, tindakan korupsi dikategorikan dalam perbuatan kriminal (maksiat) yang dilarang syara`, meskipun nash tidak menjelaskan bagaiman hukum had atau kifaratnya. Akan tetapi pelaku korupsi dikenakan hukuman jarimah ta’zir atas kemaksiatan tersebut. Penjelasan lebih lanjut tentang korupsi, dapat anda perdalam melalui buku: Azas-azas Hukum Pidana Islam, karangan A.Hanafi, (Jakarta, Bulan Bintang, 1993), h.69. dan buku-buku fiqh lainnya.

Nazaruddin dan Jaringan Koruptor di Indonesia.
Jama`ah -aah, salah satu gaya lucu yang disampaikan oleh seorang da`i di tv, yang mendadak terkenal setelah mengaupload ceramah lucunya di youtube. Jama`ah artinya berkumpul atau bersama-sama.

Kalau dalam hal sholat kita dianjurkan untuk melaksanakannya dengan cara berjama`ah, bagaima pula hukumnya, jika maksiat seperti korupsi dilakukan secara berjama`ah atau melalui jaringan koruptor tersembunyi?

Kembali kepada persoalan Nazaruddin tiba di Indonesia, banyak orang yang menginginkan Jika Nazaruddin mau membongkar seluruh orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi yang dilakukannya.

Jika tindakan korupsi adalah perbuatan maksiat, maka bersyarikat atau berjama`ah melakukannya juga termaksud maksiat. Dalam Kaidah Ushul-Fiqh disebutkan: Asy-syarikatu Fisy-Syarri Sarrun (bersyarikat dalam perbuatan jahat maka jahat juga hukumnya).

Artinya, walaupun hanya sekedar tanda tangan saja menyetujui agar uang korupsi tersebut mengalir ke jaringan jama`ah koruptor, maka orang yang menandatangani tersebut telah dianggap bersyarikat dan dianggap juga sebagai koruptor.

Info Lainnya:
Amal Anda Tergantung Niat Anda
Buat Tautan ke Postingan ini: Menyikapi Kasus Korupsi Nazaruddin Tiba di Indonesia

Animasi Button Majlisasmanabawi: animasi majlisasmanabawi copy paste di sidebar situs anda

Share Ke Sosmed Anda:

G+

Komentar Pesbuker: Menyikapi Kasus Korupsi Nazaruddin Tiba di Indonesia