Kamis, 28 Maret 2013

KUHP: Mungkinkah Kasus Santet di KUHP

Berawal dari perseteruan antara mantan artis cilik Indonesia, Adi Bing Slamet dan Mantan Guru Spiritualnya, Eyang Subur tentang kasus santet di mana Adi merasa telah disantet oleh Eyang yang kemudian menjadi konsumsi berita media dan menimbulkan beragam opini bahkan polemik diskusi oleh berbagai kalangan.

Di antara diskusi yang menarik dan diulas di berbagai media seperti di acara Indonesia Lawyers Club, salah satu program unggulan talkshow  TVOne  yang dipandu oleh Bang Karni adalah pertanyaan: Mungkinkan Kasus Santet dimasukkan ke dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia? Jawaban cepatnya, Mungkin IYA, mungkin TIDAK.

Apa Itu Santet?
Seharusnya sebelum berdiskusi atau membahas kemungkinan memasukkan kasus santet ke dalam KUHP, yang perlu dibahas lebih dahulu adalah menyamakan persepsi atau pengertian tentang apa yang disebut dengan santet, apa saja peralatan santet atau indikatornya, apakah santet adalah hal yang bersifat gaib/batin? atau hal lainnya? dst.

Perbedaan persepsi tentang hal ini, akan menimbulkan perbedaan dalam menafsirkan apalagi jika hal tersebut menyangkut persoalan kasus hukum.

Arti Santet Dalam Persepsi Masyarakat Umum
Dalam pandangan umum, santet berindikasi kepada sesuatu yang dianggap gaib atau batiniah, ilmu hitam, black magic, jin atau makhluk halus, keris atau jarum masuk dalam tubuh,  keparanormalan, perdukunan, voodoo, teluh, muncul kawat di tubuh (kasus di Kalimantan), dll yang semuanya tidak dapat dilogikakan ke dalam teks KUHP.

  • Gaib: Memiliki definisi sendiri (Bagaimana menampilkan kegaiban dalam sidang peradilan?)
  • Peralatan Jarum: Tukang jahit juga punya jarum (Sulit dijadikan tersangka sbg tukang santet)
  • Keris: Kolektor pusaka juga punya keris (hanya hobby bisa menjadi tersangka?)
  • JIN: Ada banyak kiai yang mengaku mengajar jin atau punya murid dari kalangan JIN (Apakah KIAI ini dpt dijadikan tersangka tukang santet? Bagaimana mengadili JIN dalam KUHP atau bagaimana menghadirkan JIN dalam sidang peradilan? Mungkin nanti aparat kepolisian akan memerlukan TIM Penyidik dari kalangan JIN?)
Tentang Peralatan Santet: Silahkan baca di: Ilmu Santet, Alat Menyantet, Voodoo, Black Magic.

Santet Menurut Adat Setempat
Menurut adat istiadat: Si pelaku santet terindikasi menggunakan alat atau peralatan tertentu atau kebiasaan tertentu. Problemnya, si pelaku santet bisa saja bukan orang setempat namun orang luar daerah, Sehingga peralatan santetnya tidak dapat diketahui atau tidak dapat diindikasikan atau sama sekali berbeda seperti pengertian santet dalam undang-undang Adat istiadat tersebut. Misal: cara santet di Jawa dengan di Sumatra mungkin berbeda. Misalkan: orang Ahli Santet dari Jawa yang tinggal di Palembang dan menyantet orang Palembang, maka orang ini sulit disebut tukang santet, sebab cara dan peralatan santet orang  ini tidak ada dalam pengertian adat istiadat di Palembang. Begitu juga berlaku sebaliknya. Bayangkan jika si pelaku santet adalah orang yang pernah belajar voodoo di Afrika Barat di mana cara dan metode santetnya jelas tidak sama dengan cara dan budaya santet di Indonesia.

Santet Dalam Al-Qur`an
Kasus santet dalam al-Qur`an tidak mengarah kepada undang-undang pidana dunia dalam syari`at Islam dan lebih mengarah kepada hal yang di luar hukum pidana dunia. Kita hanya diperintahkan untuk berlindung dari santet dan tidak melakukan perbuatan santet (bahasa al-Qur`an disebut Sihir: Baca dalam surat al-falaq 1-5. Surah lainnya baca dalam kisah Nabi Musa ketika melawan Tukang Sihir Firaun). Hukum bagi pelaku sihir di dalam al-Qur`an lebih menekankan kepada menjadi urusan Allah dan Allah yang akan menghukumnya di NERAKA.

Info Lainnya:
Eyang Super Bukan Paranormal Tapi Guru Spiritual
Video Tuduhan Isu Santet: Adi Bing Slamet
Manusa dan Gaib
Buat Tautan ke Postingan ini: KUHP: Mungkinkah Kasus Santet di KUHP

Animasi Button Majlisasmanabawi: animasi majlisasmanabawi copy paste di sidebar situs anda

Share Ke Sosmed Anda:

G+

Komentar Pesbuker: KUHP: Mungkinkah Kasus Santet di KUHP