Rabu, 21 Maret 2018

Cerita Sejarah Perang Bubat Tragedi Bubat Majapahit dan Pasundan

Sejarah dalam perang bubat ini menampilkan beberapa tokoh populer di Indonesia, yaitu Gajah Mada (sebagai Patih Majapahit), Hayam Wuruk (sebagai Raja Majapahit), Maharaja Linggabuana (sebagai Raja Sunda), Dyah Pitaloka (sebagai Putri Raja Sunda), rombongan raja sunda dan sedikit pasukan pengawal raja sunda, banyaknya pasukan patih gajah mada, dll

cerita perang bubat patih gajah mada majapahit dan raja sunda

Cerita Tentang Perang Bubat
Perang Bubat1 adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu pada masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk dan Kerajaan Sunda (Kerajaan Pasundan). Tragedi Bubat adalah tragedi tewasnya rombongan Raja Sunda beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dalam perang bubat, akibat penghianatan (pembantaian: red) yang dilakukan oleh Gajah Mada, patih Majapahit, dan pasukannya yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M di Bubat.

Kronologis Cerita
Hayan Wuruk yang tertarik dengan kecantikan Dyah Pitaloka (Citraresmi) putri kerajaan Sunda, bermaksud melamar dan memperistri putri sunda tersebut. Alasan lainnya yang juga diduga memicu keinginan Hayam Wuruk ini adalah alasan politik yaitu untuk mengikat persekutuan dengan negeri Sunda. Sebagai catatan, ketika tragedi bubat ini terjadi, kerajaan pasundan termasuk di antara kerajaan di masa itu yang tidak berani diganggu dan tidak berada dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

Untuk mewujudkan niatnya tersebut, kemudian Hayan Wuruk atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.



Walau tidak disetujui oleh dewan kerajaan Negeri Sunda terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain Bunisora juga kuatir jika hal tersebut adalah jebakan politik, namun dengan gagah berani Raja Sunda berserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan hanya dikawal oleh sedikit prajurit tetap mendatangi undangan resmi dari Raja Kerajaan Majapahit.

Kronologis Pembantaian Pasundan Bubat
Sesampainya rombongan Raja Sunda di Bubat, disambut oleh Patih Gajah Mada dan pasukannya. Namun berbeda dengan niat rajanya, Hayam Wuruk, Patih Gajah Mada memanfaatkan kesempatan ini.

Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan agar bisa melakukan pembantaian dengan menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Dan mendesak Hayam Wuruk agar tidak menerima Dyah Pitaloka sebagai pengantin, akan tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.

Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu. Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.

Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Raja Sunda beserta segenap pejabat kerajaan Sunda dapat didatangkan di Majapahit dan binasa di lapangan Bubat.

Mengetahui ayahnya gugur dalam pembantaian tersebut, tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa dalam rombongan tersebut, baik bangsawan ataupun abdi. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Akibat Tragedi Bubat
Tragedi ini merusak hubungan kenegaraan antar kedua negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sediakala.

Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.

Di kemudian hari ketika memimpin kerajaan pasundan, membuat kebijakan antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran, yang isinya di antaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa. (Ini berarti pula, bahwa sesungguhnya, Majapahit belumlah mampu menundukkan semua kerajaan besar pada masanya, di antaranya adalah Kerajaan Pasundan),

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana oleh kerajaan dan rakyatnya digelari sebagai: "Prabu Wangi" (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda di kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Apakah Tragedi Bubat ini Hanyalah Cerita Fiktif?
Sumber tertua yang menjadi rujukan dalam penelitian tentang sejarah perang bubat ini yaitu: Serat Pararaton2 (Kitab Raja-Raja) serta Kidung Sunda3 , Kidung Sundayana yang berasal dari Bali serta naskah Carita Parahiyangan. Namun cerita ini tidak terdapat dalam Negarakretagama4 . (Sebagai catatan bahwa beberapa rujukan tertua tersebut telah menjadi sumber yang digunakan sebagai bahan penelitian oleh para ilmuwan masa kini dalam meneliti tentang sejarah kerajaan raja-raja Singhasari dan Majapahit di pulau Jawa).

Mengapa tragedi bubat tidak ada dalam negarakretagama?
Kakawin negarakretagama adalah karya sastra karangan Prapanca yang bersifat pujasastra dengan tujuan untuk menyanjung dan mengagung-agungkan Raja Majapahit Hayam Wuruk, serta kewibawaan kerajaan Majapahit. Seperti disebutkan sebelumnya, negarakretagama juga termasuk sumber yang dijadikan rujukan ilmuwan sejarah masa kini untuk meneliti tentang sejarah Majapahit.

Karena bersifat pujasastra, hanya hal-hal yang baik saja yang dituliskan, hal-hal yang kurang memberikan sumbangan bagi kewibawaan Majapahit, meskipun mungkin diketahui oleh sang pujangga (penulis), dilewatkan begitu saja. Karena hal inilah peristiwa Tragedi Bubat tidak disebutkan dalam Negarakretagama, meskipun itu adalah peristiwa bersejarah, karena terjadinya insiden yang menyakiti hati Hayam Wuruk yang dikhianati oleh Patihnya sendiri, Gajah Mada.

Karena sifat pujasastra inilah oleh sementara pihak Negarakretagama dikritik kurang netral dan cenderung membesar-besarkan kewibawaan Hayam Wuruk dan Majapahit, akan tetapi terlepas dari itu, Negarakretagama dianggap sangat berharga karena memberikan catatan dan laporan langsung mengenai kehidupan di Majapahit.

Berdasarkan penelusuran via Online, kami hanya menemukan 1 sumber situs berbahasa Indonesia yang dapat dipercaya secara ilmiah yang menulis artikel tentang perang bubat ini, yaitu id.wikipedia.org. Sementara artikel pada situs-situs lainnya, hanyalah copy dan paste dan menggunakan sumber dari wikipedia, sama halnya dengan postingan ini

Menurut Ilmuwan Sejarah: Tragedi Bubat Mungkin Saja Pernah Terjadi
Secara akademik ilmiah, beberapa bagian Pararaton tidak dapat dianggap merupakan fakta-fakta sejarah. Terutama pada bagian awal, antara fakta dan fiksi serta khayalan dan kenyataan saling berbaur. Beberapa pakar misalnya C.C. Berg berpendapat bahwa teks-teks tersebut secara keseluruhan lebih berkesan supranatural dan ahistoris, serta dibuat bukan dengan tujuan untuk merekam masa lalu melainkan untuk menentukan kejadian-kejadian pada masa depan. Meskipun demikian sebagian besar pakar (kalangan akademisi ilmuwan sejarah) dapat menerima pada tingkat tertentu kesejarahan dari Pararaton, dengan memperhatikan kesamaan-kesamaan yang terdapat pada inskripsi-inskripsi lain serta sumber-sumber berita dari China, serta menerima lingkup referensi naskah tersebut di mana suatu interpretasi yang valid dapat ditemukan.

Menurut Fun Patih Gajah Mada: Tragedi Bubat Hanyalah Cerita Fiksi
Beberapa kalangan pecinta Patih Gajah Mada menganggap bahwa cerita ini hanyalah cerita fiktif, karena menurut mereka Serat Pararaton yang dijadikan sumber rujukan hanyalah karangan orang Belanda untuk mengadu domba antara orang Jawa dan Sunda serta menghubungkannya dengan usaha Belanda untuk menjatuhkan perjuangan pangeran Diponegoro. Namun sayangnya, tuduhan mereka ini tidak disertakan bukti sejarah yang bisa diterima secara ilmiah, sehingga ahli sejarah menolak asumsi ini. Mereka hanyalah memberikan asumsi atau praduga yang berisi tuduhan semata tanpa dapat membuktikan jika orang belanda-lah yang membuat Serat Pararaton.

Kalangan pecinta patih Gajah Mada ini bisa juga telah dipengaruhi oleh cerita antara fakta, fiksi dan mitos lain tentang kesempurnaan patriotisme kehebatan Patih Gajah Mada hingga menjadikan mereka mengembangkan sikaf fanatisme yang berlebih-lebihan dan menolak pendapat apapun yang akan mengurangi kehebatan dan kesempurnaan patriotisme Patih Gaja Mada. Walau pada kenyataannya, Gajah Mada bukanlah Tuhan dan bukan pula nabi, yang terbebas dari kesalahan. Dalam pendapat lain, bahkan ada yang beranggapan jika Patih Gaja Mada adalah muslim atau orang Islam (anggapan tentang ke-Islaman Patih Gajah Mada tentu akan memerlukan sumber rujukan yang lebih sulit lagi untuk ditemukan kecuali cuma dugaan fanatisme yang bisa saja menyesatkan).

Terlepas dari kebenaran cerita perang bubat, beberapa reaksi berikut ini dianggap dihubungkan dengan tragedi bubat:

  • Tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit". Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.
  • Meskipun Bali sering kali dianggap sebagai pewaris kebudayaan Majapahit, masyarakat Bali sepertinya cenderung berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini, seperti terbukti dalam naskah Bali Kidung Sunda. Penghormatan dan kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah berani menghadapi kematian, sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan ajaran Hindu mengenai tata perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya, bahwa kematian yang utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan laga. Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya dalam kebudayaan Bali, yakni tradisi puputan, pertempuran hingga mati yang dilakukan kaum prianya, disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum wanitanya. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah, tetap hidup, tetapi menanggung malu, kehinaan dan kekalahan.
  • Orang tua bersuku Jawa melarang anak-anaknya menikah dengan orang yang memiliki darah suku Sunda dan dianggap tidak baik dan akan mengganggu potensi kerezekian, dll. Berlaku juga sebaliknya. Reaksi ini mungkin tidak berpengaruh terhadap orang tua yang berpendidikan (akademis) dan lebih mengedepankan akal sehat dari pada mengikuti kepercayaan mitos masyarakat.
SUMBER RUJUKAN:
1 Artikel online yang lebih dapat dipercaya mengenai tragedi bubat ini dapat anda baca di: https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bubat
2 Pararaton saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Baca: https://id.wikipedia.org/wiki/Pararaton.
3 Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan naskahnya ditemukan di Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian dia menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tidak disebutkan namanya. Baca: https://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda.
4 Merupakan kakawin Jawa Kuno karya Empu PrapaƱca yang paling termasyhur, ditulis tahun 1365. Kakawin ini adalah yang paling banyak diteliti. Baca: https://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Nagarakretagama
Buat Tautan ke Postingan ini: Cerita Sejarah Perang Bubat Tragedi Bubat Majapahit dan Pasundan

Animasi Button Majlisasmanabawi: animasi majlisasmanabawi copy paste di sidebar situs anda

Share Ke Sosmed Anda:

G+

Komentar Pesbuker: Cerita Sejarah Perang Bubat Tragedi Bubat Majapahit dan Pasundan